i.k.h.l.a.s

bismillaahirrohmanirrohiim.
assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh…
baru beberapa waktu lalu dapat artikel dari sebuah grup yang diikuti, judulnya “ikhlas oh ikhlas…”
ia bahas pendapat hatinya tentang apa itu dan bagaimana itu ikhlas…
jadi teringat sama beberapa orang, yang pernah meminta ku untuk melakukan sesuatu. beberapa kali sesuatu itu
dilakukan dgn tidak sempurna. misalnya saat disuruh bawa piring ke dapur, terus piringnya pecah. nah, terus aku akan
dapat hadiah, “makanya, kalo kerja itu mesti ikhlas…”
*glek
jadi teringat lagi sama perkataan seorang teman yg waktu itu sedang emosi, tentang teman lainnya, “aku sebel banget
kalo dia nyoba-nyoba nilai keikhlasan aku. yang tahu aku ikhlas atau enggak kan cuma Allah…”
*wuw
ikhlas, ikhlas karena Allah, iya memang berat. untuk tidak menghasilkan sekecil pun rasa bangga saat di hadapan mata
manusia.
iya, aku juga setuju. tidak berhak seseorang menilai ikhlas atau tidak perbuatan seseorang kepadanya. tidak adil. dan
tentunya tidak ada hak atas mereka untuk menilai keikhlasan seseorang. siapa kita? cuma manusia. sombong sekali
rasanya…
“… Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.”
[QS Ali 'Imran: 119]
“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”
[QS At-Taghaabun: 4]
“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?”
[QS Al-Mulk: 13-14]
“Tidaklah kamu perhatikan bahwa sesunggunya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerejakan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS Al-Mujaadilah: 7]
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
[QS Qaaf: 16]
perbuatan-perbuatan yang tidak berjalan sempurna atau baik itu, tentu memang harus terjadi begitu. ada kehendak
Allah di sana. faktor manusianya, bisa karena ia konsentrasi pada lain hal. bisa karena ia tersandung sesuatu namun
belum sempat menceritakannya. jika pun ia tahu kesalahan seperti itu bisa mengundang murka orang lain, apa
mungkin ia sengaja melakukannya? maka bisa jadi ada ratusan faktor ketidaksengajaan diluar kuasanya.
lagipula,
ikhlas atau tidaknya seseorang, Allah yang akan mengganjarnya, bukan kita, si manusia yang tercipta dengan sifat
lemah…
“… manusia dijadikan bersifat lemah”
[QS An-Nisaa`: 28]
wallaahua’lam…
hai aku,
sudah sempurnakah ikhlas ku?
sudah yakinkah tidak mengharapkan apa2 dari tindak baikku yg sungguh sangat sedikit itu?
sudah untuk Allah kah semua ibadahku?sudah cukup baikkah menilai niatan baik orang lain?
sudah jauhkah aku dari riya? yg ia bagaikan semut hitam yg berjalan di atas batu di kegelapan malam? hampir tak
terlihat mata…
bagaimana dgn kamu?
wassalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh…

bismillaahirrohmanirrohiim.

assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh…

baru beberapa waktu lalu dapat artikel dari sebuah grup yang diikuti, judulnya “ikhlas oh ikhlas…”

ia bahas pendapat hatinya tentang apa itu dan bagaimana itu ikhlas…

jadi teringat sama beberapa orang, yang pernah meminta ku untuk melakukan sesuatu. beberapa kali sesuatu itu dilakukan dgn tidak sempurna. misalnya saat disuruh bawa piring ke dapur, terus piringnya pecah. nah, terus aku akan dapat hadiah, “makanya, kalo kerja itu mesti ikhlas…”

*glek

jadi teringat lagi sama perkataan seorang teman yg waktu itu sedang emosi, tentang teman lainnya, “aku sebel banget kalo dia nyoba-nyoba nilai keikhlasan aku. yang tahu aku ikhlas atau enggak kan cuma Allah…”

*wuw

ikhlas, ikhlas karena Allah, iya memang berat. untuk tidak menghasilkan sekecil pun rasa bangga saat di hadapan mata manusia.

iya, aku juga setuju. tidak berhak seseorang menilai ikhlas atau tidak perbuatan seseorang kepadanya. tidak adil. dan tentunya tidak ada hak atas mereka untuk menilai keikhlasan seseorang. siapa kita? cuma manusia. sombong sekali rasanya…

“… Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.”

[QS Ali 'Imran: 119]

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

[QS At-Taghaabun: 4]

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?”

[QS Al-Mulk: 13-14]

“Tidaklah kamu perhatikan bahwa sesunggunya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerejakan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS Al-Mujaadilah: 7]

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

[QS Qaaf: 16]

perbuatan-perbuatan yang tidak berjalan sempurna atau baik itu, tentu memang harus terjadi begitu. ada kehendak Allah di sana. faktor manusianya, bisa karena ia konsentrasi pada lain hal. bisa karena ia tersandung sesuatu namun belum sempat menceritakannya. jika pun ia tahu kesalahan seperti itu bisa mengundang murka orang lain, apa mungkin ia sengaja melakukannya? maka bisa jadi ada ratusan faktor ketidaksengajaan diluar kuasanya.

lagipula,

ikhlas atau tidaknya seseorang, Allah yang akan mengganjarnya, bukan kita, si manusia yang tercipta dengan sifat lemah…

“… manusia dijadikan bersifat lemah”

[QS An-Nisaa`: 28]

wallaahua’lam…

hai aku,

sudah sempurnakah ikhlas ku?

sudah yakinkah tidak mengharapkan apa2 dari tindak baikku yg sungguh sangat sedikit itu?

sudah untuk Allah kah semua ibadahku?sudah cukup baikkah menilai niatan baik orang lain?

sudah jauhkah aku dari riya? yg ia bagaikan semut hitam yg berjalan di atas batu di kegelapan malam? hampir tak terlihat mata…

bagaimana dgn kamu?

wassalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh…

7 Responses to this post.

  1. Sesungguhnya Allah telah menguji kita semua, agar tampak siapa di antara yang lebih baik amalnya (yang paling iklhas dan paling benar).

    terimakasih mbak Wis, sampun diingatkan kembali.
    barakallah…

  2. Can i get a one small picture from your site?
    Rufor

  3. Posted by lamya on September 8, 2009 at 3:35 pm

    aslm.ikutan y mb ws :) .mnurutku malah tantangan terbesar adlh menjaga keikhlasan itu dari awal sampai akhir proses. Diawali dan diakhiri karena Allah. Soalny klau sampai si riya nyempil2, bisa bahaya,hhe. jatuhnya malah jadi syirik ashgar..gtu bukan mb?

  4. @pak tedjok
    sami2 pak… sama2 mengingatkan lewat tulisan2nya lagi pak.

    @mba mya
    wa’alaykumussalaam wa rohmatullaahi wa barokaatuh..
    waaa ada mba my… :D
    nah iya mba my.. itu juga yg kita takutin bersama… >.< semoga allah menjaga hati2 kita selalu…
    makasi ya mba my uda komeenn..

  5. ws… lama tk berkutat dg kompleksitas blog!
    gimana caranya?

  6. hohoho…
    aku uda berkutat. enko tu nde..
    cara apa tho?

  7. wis,ayoo kita selesaikan seminar buat besok

Respond to this post